CERITANYA MENJEMPUT REJEKI

Standar

Sabtu 23 Mei kemarin hari terakhir saya bekerja di PostNL sebagai postbode ; postbezorger atau bisa diterjemahkan sebagai pengantar surat. Saya bergabung di PostNL sekitar tahun 2013 akhir, waktu itu saya iseng iseng mencari lowongan pekerjaan dan memang iklan lowker dari PostNL menjadi yang paling sering saya temui waktu itu. Setahu saya mereka mencari pengantar surat di banyak area dan Anda bisa memilih yang paling dekat dengan tempat tinggal Anda. Itu akan mempermudah Anda dalam bekerja. Seperti saya, tinggal di daerah Buikslotermeerplein jadi saya waktu itu memilih lowker pengantar surat di daerah saya.

contoh lowongan kerja untuk pengantar surat

contoh lowongan kerja untuk pengantar surat

Read the rest of this entry

Iklan

FILM vs REALITA

Standar

Siapa yang belum pernah nonton film berbahasa Inggris? Pasti semua pernah kan meski hanya sekali. Film yang bisa dibilang merajai kaca televisi dan bioskop bioskop kita seringkali disebut film Barat. Di dalam sebuah website Film Barat, saya temukan pengertian film barat adalah film yang berkiblat kepada industri film Amerika. Film film yang datang dari Amerika ini memang banyak menyita perhatian. Coba lihat kalau ada rilis film dari Hollywood yang baru, antrian bioskop jadi seperti ular. Hahaha.. tapi bukan itu yang saya ingin bahas disini. Topiknya kali ini adalah apakah hal hal yang kita lihat dari film film tersebut apakah relevan dengan realita?

Read the rest of this entry

BE YOUR SELF

Standar

Semalem ngobrol dengan suami tentang berani menjadi diri sendiri. Suami sering dengar radio di perjalanan ke kantor atau pulang ke rumah. Cerita terakhir yang dia dengar dari radio adalah ada sebuah penelitian tentang pengaruh media kepada pemikiran remaja. Dilakukan sebuah tes kepada sekumpulan anak anak remaja umur 15-18 tahun. Mereka dipisahkan di ruang tertentu dan ditunjukkan gambar yang sama, gambar gambar perempuan dengan berbagai tipe wajah, rambut, dll. Para cewek dan cowok ABG ini diberi pertanyaan yang sama : mana yang menurut kalian cantik dan kurang cantik. Munculah beberapa jawaban.

Kemudian pertanyaan yang lanjutan adalah :

Untuk cowok diberi pertanyaan : bagaimana seandainya kalian mempunyai pasangan yang seperti wajah yang menurut mereka kurang menarik)? Jawaban mereka antara lain : tidak mau mempunyai pasangan yang wajahnya kurang menarik ; meminta pasangan mengubah penampilan ; memutuskan pasangannya.

Read the rest of this entry

Obat Kangen : Dengerin Radio Lewat Streaming

Standar

Sekali lagi thanks to technology. Jaman sekarang peralatan teknologi bisa membuat dunia terasa lebih kecil. Sebut saja chat applications, bisa pilih satu dua tiga di telefon genggammu. Tinggal klik klik, bisa mengirim foto langsung, atau dengan Skype kita bisa ngobrol berhaha hihi dengan orang yang berada di belahan lain bumi ini. Dari sisi itu saya sangat bersyukur saya hidup di jaman sekarang ini (meski begitu saya juga masih suka kirim surat / kartu lewat pos kok) hehehe…

Semua fasilitas teknologi ini juga bisa mengobati kangen kita terhadap tanah air. Sama keluarga, teman teman atau sama sebuah kota. Nostalgia ceritanya..

Saya bukan termasuk orang yang betah berjam jam nonton tivi (makanya saya suka ada reklame, bisa disambi hehe). Saya lebih suka mendengarkan radio dan bisa disambi mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Disini banyak stasiun radio, kadang saya mendengarkan juga cuma saya belum bisa klik 100% dengan siarannya. Sejam dua jam bolehlah mendengarkan radio berbahasa planet itu, sebut saja http://www.538.nl/ dan http://www.radioveronica.nl/, tapi lama lama juga pusing hahaha!

Akhirnya radio yang suka saya dengarkan adalah radio lewat streaming. Satu website yang saya idolakan saat ini adalah http://jogjastreamers.com/.

jogjastreamers2 Read the rest of this entry

Malu Bertanya, Gak Tahu Apa Apa #BeraniLebih Bertanya

Standar

Berdomisili di tempat tinggal yang baru merupakan tantangan tersendiri buat seseorang, termasuk saya untuk berusaha merasa homy seperti di tempat asal. Meskipun dua tempat itu tidak akan sama, tetapi bila kita merasa senang di tempat tinggal baru bisa mengurangi atau mengalihkan rasa kangen terhadap tempat asal.

Terus terang tidak sedikit yang harus saya pelajari atau sesuaikan di tempat tinggal baru. Dari cuaca yang sangat berbeda, bahasa dan kuliner, sampai beberapa hal kecil dalam kebiasaan dan budaya sehari hari orang lokal yang perlu saya pelajari / sesuaikan.

Tidak sedikit emigran yang memilih berinteraksi dengan kelompoknya daripada mengenal orang, budaya dan kebiasaan orang lokal. Itu tentu saja sah-sah saja, itu pilihan mereka tetapi buat saya dimana langit dipijak, disitu langit dijunjung. Satu hal yang penting, saya tetap ingin menjadi diri saya sendiri –orang Indonesia—yang juga bisa bertoleransi dan menyesuaikan diri dengan baik di tempat tinggal barunya.

Salah satu budaya keseharian orang lokal yang saya amati adalah budaya bertanya. Kedengarannya sederhana ya? Beberapa kali terlibat dalam pertemuan dengan keluarga atau teman suami saya, saya perhatikan obrolan yang berlangsung terdiri dari banyak pertanyaan, banyak jawaban yang kemudian memunculkan pertanyaan pertanyaan selanjutnya. Jangan juga terkejut kalau muncul pertanyaan yang to the point. Buat yang belum terbiasa atau ada rasa pakewuh untuk bertanya tentunya menjadi tantangan tersendiri untuk jadi salah satu bagian dari obrolan yang sedang beredar. Termasuk saya, jadinya di beberapa acara saya jadi diam dan lebih senang ditanya karena merasa bingung mau bertanya apa.

Setelah beberapa kali ngobrol dengan suami bagaimana caranya agar saya bisa ikutan ngobrol di acara acara begitu, dia menyarankan : tanya apa saja yang ingin kamu tanyakan. Misalnya sama orang yang baru kenal, tanyakan dimana dia tinggal, bagaimana bisa kenal dengan tuan rumah, kegiatannya apa sehari hari, dll. Dari jawaban yang diberikan, coba ajukan lagi pertanyaan. Kadang saya sih merasa duh orang sini kepo banget, nanya terus tapi ternyata dengan banyak bertanya kita juga jadi banyak tahu. Dua hal penting (pesan suami), dengan banyak bertanya (tentunya bertanya dengan sopan ya) lawan bicara kita akan merasa dihargai dan itu menunjukkan kita orangnya terbuka dan tertarik dengan hal hal baru. Ajukan pertanyaan terbuka, ya jangan lupa, kata suami saya selanjutnya.

(Saya jadi ingat waktu diundang wawancara kerja di bulan bulan awal saya tinggal disini, saya dan suami berlatih seolah olah kami dalam wawancara kerja. Dia bilang kalau nanti kamu ditanya, ada pertanyaan? Kamu harus menjawab ADA, karena pasti ada banyak pertanyaan yang bisa dilontarkan dan itu akan jadi nilai plus kamu). Aha!

Saya mencoba sedikit demi sedikit mempraktekkan. Di sebuah undangan pesta seorang kenalan, saya mencoba memulai mengobrol dengan beberapa tamu sesuai dengan saran suami saya. It works. Meski saya masih dalam taraf belajar tapi saya tidak lagi menjadi orang yang hanya diam saja di sebuah acara. Hasilnya? Saya lebih merasa enjoy bila berada di sebuah acara. Oh ya, soal bertanya ini saya juga baca beberapa sumber dari internet, mengajukan pertanyaan terbuka kepada anak anak juga membantu proses belajar mereka untuk menjadi lebih kritis dan tidak hanya sebagai penerima. Mau mencoba?

beranilebih
Tulisan ini disertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek di Blog #BeraniLebih Komunitas Light of Women.

FB : Dede Harjanti

Twitter : @dedevanmourik

KISAH IBU MERTUA BEDA BANGSA

Standar

blogkartini

Postingan pertama di blog WordPressku adalah tentang IBU MERTUA. Menyambut hari Kartini, 19-21 April Kumpulan Emak Emak Blogger (KEB) menyelenggarakan postingan serentak #K3BKartinian. Temanya seru. Saya mencoba berpartisipasi ya.

Saya kenal ibu mertua kira kira di tahun 2010. Beliau menjadi single parent sejak sekitar tahun 2007 dengan empat orang anak laki laki yang semuanya sekarang berumur 30 tahun keatas (Suami saya anak nomor dua, sama sama anak tengah dengan saya.. hehe gak ada yang nanya ya).

Memandang peran seorang ibu, saya selalu kagum dengan wanita yang menjadi istri dan juga ibu. Waktunya selalu ada untuk suami dan anak-anaknya dan mungkin waktu untuk dirinya sendiri agak terkesampingkan. Saya juga kadang membayangkan waktu dulu keempat anak beliau masih kecil, pastinya juga tidak mudah mengelola waktu. Tapi melihat keempat anaknya yang sekarang sukses dan well behaved saya yakin beliau (dan almarhum suami) sudah memberikan didikan yang hebat.

Pertama saya kenal ibu mertua, beliau memang wanita yang sederhana dan ‘anteng’ kalau orang Jawa bilang (artinya kurang lebih tenang). Saya dari segi itu tidak punya kesulitan untuk beradaptasi karena saya dibesarkan di keluarga yang kurang lebih punya norma sama dengan beliau dan keluarga kecilnya (termasuk mendidik suami saya). Bahasa buat kami terkadang masih menjadi kendala karena saya masih belajar bahasa Belanda dan ibu mertua bisa berbahasa Inggris terbatas. Perbedaan budaya juga membuat saya juga kadang masih bingung memanggil beliau. Kalau di Indonesia ibu mertua juga dipanggil Mama, kalau disini langsung memanggil nama atau dengan panggilan ‘U’ (Anda).  Saya memilih memanggil dengan panggilan ‘U’ kepada beliau.

Read the rest of this entry